Tuesday, 27 May 2008

AYAH BEKERJA DI MANA?




Pemain-pemain:

Ibu Lili Kusuma: Bree Swift
Pak Arif Kusuma: Moshe Bernstein
Cica Kusuma(anak perempuan): Christine Mueller
Anna Jones (student dari Australia): Tamsyn Butler
Feriana (pembantu): Moshe Bernstein


DI KOPERASI

Ibu: Cica, kamu mau beli alat-alat sekolah, kan?
Cica: Ya, bu. Saya mau beli gunting sama spidol dan kalkulator.
Ibu: Kami musti pergi ke toko, ya?
Pak: Tidak pergi ke toko. Harganya di sana mahal sekali. Kami harus ke koperasi, nggak?
Cica: Ya, Ayah, tapi harus pergi sekarang. Sudah jam setengah sebelas koperasi hampir tutup!
Ibu: Di koperasi harganya pas, nggak?
Pak: Ya, tapi minggu ini ada lagi obral dengan diskon sepuluh percen!
Cica: Hebat, ayah! Ayo sekarang!
(Mereka datang ke koperasi.)
Cica: Kalau saya beli lima spidol ini, yang keenam gratis!
Ibu: Berapa harganya?
Cica: Harganya hanya enam ratus rupiah dengan diskon!
Ibu: Ini murah sekali, ya?
Pak: Murah banget, bu! Cica bisa beli lima dengan keenam gratis.
Cica: Aduh! Orang perempuan itu Anna Jones, mahasiswa dari Australia. Dia duduk di kelas saya di universitas. Anna, selamat siang!
Anna: Selamat siang, Cica. Apa kabar?
Cica: Baik-baik, dan kamu?
Anna: Baik sekali, terima kasih.
Cica: Kenalkan, ini bapak saya, Pak Arif Kusuma, dan ibu saya, Bu Lili Kusuma.
Ibu: Halo, Anna.
Pak: Halo.
Anna: Halo.
Pak: Kamu berasal dari mana di Australia?
Anna: Saya berasal dari kota Sydney. Dulu keluarga saya tinggal di Perth tapi kami sudah pindah ke Jakarta.
Ibu: Bagus! Kamu sudah pandai bicara bahasa Indonesia.
Cica: Ya, dia pandai berbicara tapi masih belum pandai menulis dan membaca.
Pak: Cica, saya harus pergi bekerja, nih. Mau beli kalkulator ini? Harganya cuma dua puluh satu ribu rupiah.
Cica: Saya mau beli ini.
Pak: Mau beli yang hitam atau yang merah?
Cica: Saya mau yang merah! Terima kasih, Ayah!
Pak: Terima kasih kembali. Saya membayar dan sesudah saya pergi ke pekerjaan saya.
Anna: Apa pekerjaan anda, Pak?
Pak: Dulu saya belajar mata pelajaran agama di universitas, tapi sekarang saya sopir taksi.
Cica: Anna, mampir ke rumah saya hari sore, yuk?
Anna: Boleh!
Ibu: Anna, apa kamu mau makan malam dengan kami?
Anna: Ya, saya suka sekali.
Pak: Maaf, saya tidak dapat makan di rumah malam ini. Saya musti bekerja.
Anna: Bagaimana saya pergi ke rumah kami?
Pak: Dari terminal bis kamu naik bis kota nomer lima puluh enam sampai Toko Matahari.
Cica: Dari sana seberangi jalan itu dan rumah kami nomer seratus tiga puluh delapan.
Pak: Wah, saya terlambat, nih! Sampai jumpa lagi!
Ibu, Cica dan Anna: Sampai jumpa!
Ibu: Apa kamu bisa mampir ke rumah jam enam malam? Kami akan minum teh dan sesudah makan malam.
Anna: Saya pergi ke Klub Musik dari jam empat sampai jam lima. Sesudah saya naik bis ke rumah kamu!
Cica: Klub Musik? Apa kamu berlatih bermain alat musik?
Anna: Saya berlatih bermain gitar. Dan kamu? Apa kamu juga bermain alat musik?
Cica: Ya, saya belajar piano dan saya menyanyi, tapi saya tidak ikut Klub Musik. Saya suka Klub Ingerris karena saya dapat berlatih bicara bahasa ini.
Ibu: Sudah terlamblat! Sekarang kami harus ke toko dan beli makan untuk makan malam. Sesudah kami pergi ke rumah.
Cica: Kenapa Feriana tidak beli makan hari ini?
Anna: Siapa Feriana?
Cica: Pembantu kami. Dia orang Kalimantan dan baik-hati sekali.
Ibu: Hari ini Feriana mencuci rumah dan mobil. Tidak bisa beli makan.
Cica: Oke,kami sekarang pergi ke toko. Anna, sampai jumpa lagi, yuk?
Anna: Ya, sampai jumpa nanti!

DI RUMAH

(Ibu dan Cica duduk di rumah mereka. Ibu menjahit dan Cica membaca buku. Ada ketokan di pintu.)

Ibu: Siapa di sana?
Anna: Ini saya, Anna.
Cica: Anna, silakan masuklah!
Anna: Selamat sore! Apa kabar, Bu?
Ibu: Baik-baik, terima kasih!
Anna: Anda sedang menjahit apa?
Ibu: Saya menjahit rok baru. Hobi saya menjahit.
Cica: Bagaimana hobi kamu, Anna? Klub Musik sudah selasai?
Anna: Ya, sudah. Cukup sulit tapi menyenangkan. Kapan Klub Bahasa Ingerris berkumpul?
Cica: Klub Ingerris berkumpul setiap hari Kamis pada jam tiga sampai jam lima.
Ibu: Anna, apa kamu mau minum teh?
Anna: Ya, boleh!
Ibu: Feriana!
(Feriana masuk dari dapur.)
Feriana: Ya, nyonya!
Cica: Feriana, ini teman saya. Namanya Anna. Dia orang Australia.
Feriana: Selamat datang, Anna. Australia jauh banget dari sini, nggak?
Anna: Tidak jauh sekali. Empat jam dengan pesawat terbang.
Ibu: Feriana, kami mau minum teh.
Feriana: Baiklah, nyonya. Saya sekarang akan menyiapkan teh.
(Feriana pergi untuk menyiapkan teh.)
Ibu: Anna, kamu sudah pandai bermain gitar?
Anna: Saya masih belum pandai tapi saya berlatih setiap hari.
Cica: Feriana juga mempunyai hobi. Dia bernyanyi. Feriana, nyanyikan lagu kepada kami!
Feriana: Wah, Mbak Cica! Saya pemalu sekali!
Cica: Tapi kamu menyanyi sangat baik!
Feriana: Saya tidak mau.
Ibu: Feriana, menyanyi!
Feriana: Ya, nyonya.
Burung kakaktua, hinggap di jendela, nenek sudah tua, giginya tinggal dua
Tredung, tredung,tredung, tralala (tiga kali) burung kakaktua!
Cica: Indah sekali!
Ibu: Bagus, Feriana!
Feriana: Terima kasih!
Anna: Feriana, di mana kamu belajar menyanyi?
Feriana: Dulu Ibu saya di Kalimantan mengajar saya untuk menyanyi. Sesudah saya menyanyi kepada anak-anak saya.
Ibu: Feriana mempunyai empat anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Cica: Mereka masih tinggal di Kalimantan.
Anna: Dan suami kamu? Dia masih tinggal di sana?
Feriana: Ya, dia masih di sana. Dia naik becak.
Anna: Bagaimana sifatnya?
Feriana: Dia tinggi dan ganteng banget. Dia juga humoris dan ramah sekali. Saya sangat cinta dia. Minta maaf, saya akan membawa teh aja.
(Feriana pergi untuk membawa teh.)
Anna: Saya pikir Feriana bukan orang perempuan!
Ibu: Bukan orang perempuan? Dia tentu orang perempuan! Dia cantik sekali!
Cica: Aduh, Anna! Kenapa kamu pikir begitu?
Anna: Saya pikir itu, karena dia berjanggut!
Ibu: Berjanggut! Apa dia mempunyai janggut? Saya belum pernah melihat janggut.
Cica: Tapi adalah juga orang perempuan yang berjanggut!
Anna: Tapi dia tidak berjanggut sedikit, dia berjanggut panjang!
(Feriana datang membawa teh.)
Feriana: Ini teh, nyonya.
Ibu: Terima kasih, Feriana!
Cica: Feriana, Anna pikir kamu bukan orang-perempuan! Dia pikir kamu sebetulnya orang laki-laki!
Feriana: Saya orang laki-laki!?!! Kenapa dia pikir itu?
Anna: Saya pikir itu, karena kamu berjanggut.
Feriana: Berjanggut? Saya berjanggut?
Ibu: Wah, Feriana! Apa itu benar atau salah?
Feriana: (Menyingkirkan wignya.) Ya, ini betul. Saya sebetulnya orang laki-laki.
Ibu: Arif!
Cica: Ayah!
Anna: Pak Kusuma, selamat sore!
Ibu: Arif! Kenapa kamu memakai pakaian seorang perempuan?
Pak: Kenapa? Karena saya banci.
Cica: Tapi kami pikir Anda setiap hari bekerja sebagai sopir taksi, nggak?
Pak: Tidak. Saya tidak bekerja sebagai sopir taksi. Saya bekerja di kota di kelab malam untuk banci.
Anna: Kenapa Anda bekerja di sana, Ayah?
Pak: Dulu saya bekerja sebagai sopir taksi, tapi saya hanya mendapat dua juta rupiah sebulan.
Di kelab malam saya bisa bekerja untuk mendapat lima juta.
Cica: Lima juta! Bagus sekali, Ayah!
Ibu: Arif, kapan kamu pergi ke kelab malam?
Pak: Setiap malam sesudah kami pergi ke tidur, saya berangkat ke kelab malam.
Ibu: Baiklah! Tapi kami terlambat. Kami mau makan.
Cica: Iya, kami lapar sekali.
Anna: Sekarang Feriana tidak akan memasak nasi goreng untuk kami.
Pak: (Mengenakan lagi wig.) Kalau begitu… saya masih bisa memasak nasi goreng untuk anda, kan?
Ibu: Baiklah! Masuk ke dapur dan mulai bekerja!
Pak: Ya, segera, nyonya!
(Feriana pergi ke dapur.)
Anna: Sekarang dia lagi sangat cantik!

No comments: